Sabua Bambu

Maret 14, 2007

“Nightmare on Sony Ericsson Service Centre”

Diarsipkan di bawah: Manado — dannyrogi @ 12:36 am

Saya baru-baru ini mengalami  “mimpi buruk” dengan hp Sony Ericsson yang saya beli. Berikut kronologisnya:

  1. Pada hari Sabtu malam, 13 Januari 2007, saya membeli Handphone merk Sony Ericsson J230i Dark Chrome  -59260- seharga Rp.600.000,- di toko Telstar kompleks pertokoan Megamas Manado. Keadaan HP masih tersegel dan mendapat garansi resmi satu tahun. HP langsung saya gunakan saat itu juga.
  2. Hari demi hari berlalu, dan HP yang saya baru beli tersebut, tetap saya gunakan sambil saya pelajari. Kemudian masalah terjadi. Pada hari minggu, 28 Januari 2007, ketika saya ingin menelpon orang tua saya di Jakarta, nada panggilan yang biasanya terdengar, kali itu tidak terdengar, tapi kalau saya perhatikan di layar monitor, terlihat HP saya sedang dalam proses memanggil, dan selanjutnya terlihat  juga di layar kalau Ibu saya yang berada di seberang sana sudah menerima panggilan dari saya, namun tidak terdengar sedikitpun suaranya…..sampai akhirnya saya putuskan hubungan tersebut.
  3. Selanjutnya saya coba untuk yang keduakalinya. Ternyata masih sama.Kali ini saya segera aktifkan speaker phone. Baru terdengar suara ibu saya. Setelah itu, karena saya masih penasaran, saya coba lagi menelpon ke beberapa teman. Masih sama, saya baru bisa bicara dengan mereka kalau speaker phone diaktifkan. Begitu pula ketika saya coba hubungi  telpon di rumah saya….masih seperti itu hasilnya. Termasuk ketika saya yang menerima panggilan, saya harus aktifkan speaker phone. Saya masih ingat, terakhir HP ini masih bisa menerima telpon dengan biasa (tanpa mengaktifkan speaker phone) adalah hari sabtu sore, 27 Januari 2007 (satu hari sebelum masalah muncul). Waktu itu saya menerima panggilan dari teman saya, dan kami bercerita seperti biasa.
  4. Saya pikir, mungkin saya salah menekan sesuatu di menu atau setting atau lainnya. Namun setelah saya pelajari buku petunjuknya, tampaknya tidak ada sesuatu yang salah. Dan sampai saat itu HP ini juga masih amat mulus, tidak cacat pisik, karena jatuh misalnya…..jadi secara pisik masih oke. Saya jadi bertanya-tanya, “Mengapaaaaa?”
  5. Masalah ini terjadi ketika saya sedang berada di Gorontalo (saya tinggal di propinsi yang masih relative baru ini, sedangkan kantor saya ada di Manado). Saya ingin segera memperbaiki, tapi saya teringat bahwa HP ini masih digaransi. Untuk mengklaimnya harus dibawa ke tempat service resmi Sony Ericsson. Di Gorontalo belum ada, jadi harus dibawa ke Manado untuk menservice sesuai dengan yang digaransikan. Untuk membawa ke tempat servis yang tidak resmi yang banyak terdapat di kota Gorontalo, saya tidak berani, dengan alasan jangan-jangan belum tentu berhasil diperbaiki, dan kemudian ketika diklaim ke tempat servis resmi Sony Ericsson, mereka sudah tidak mau bertangung jawab, karena sudah orang lain “bongkar” lebih dahulu. Sementara ini saya putuskan menerima dulu kondisi ini, sambil menunggu kesempatan ke Manado.
  6.  Akhirnya, sekitar 11 hari kemudian, setelah masalah muncul, saya berangkat ke Manado, tepatnya hari Kamis, 8 Februari 2007. Dan keesokan harinya, Jumat malam, 9 Februari 2007 saya langsung bawa ke tempat resmi penjualan dan servis Sony Ericsson di kompleks pertokoan Megamas (hampir besebelahan dengan toko Telstar, tempat HP yang bermasalah tersebut saya beli). Saat itu salah seorang petugas  meminta saya untuk datang kembali esok hari (setelah saya mengutarakan masalah HP tersebut), karena saat itu mereka sedang ada gangguan sehingga belum bisa mengecek  HP saya. Waktu itu saya sempat tanyakan ke dia, kira-kira  berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengecek HP tersebut? Dia Cuma menjawab tidak lama.
  7. Esok malamnya, 10 Februari 2007, saya kembali datangi SCSE. Setelah mereka periksa, ternyata  HP benar-benar mengalami masalah, tepatnya “Earphone Eror”. Selanjutnya saya dibuatkan Repair Order. Berikut detailnya: No. RO 146201 (dibawah itu tertulis juga dengan tangan 000552, katanya kalo saya ingin mengecek via telpon, tinggal sebutkan saja nomer tersebut). Kemudian dalam lembaran tersebut, dibawah lambang dan tulisan SE, terdapat lambang dan tulisan Trikomsel (0431-879662), Week Production 06w47, Product J230 Bluei, IMEI 359 077 007 959 360, S/N WUJ008YRXY, KRC AAA-1002011-BV, Warranty Yes, Personal Abuse No.
  8. Mereka meminta waktu 3 hari untuk memperbaikinya. Oke saya terima. Selanjutnya 3 hari kemudian, tepatnya Selasa malam, 13 Februari 2007, saya datang kembali, dan menyodorkan lembar RO tersebut. Jawaban yang saya terima adalah kerusakan pada HP (earphone)  tersebut tidak berhasil diperbaiki, dan mereka memutuskan untuk mengganti earphone. Namun harus menunggu barang tersebut dari Jakarta. Saya tanya berapa lama? Mereka bilang sekitar 1 minggu. Mereka sampaikan kalau sudah ada barangnya saya akan segera dihubungi.
  9. Setelah hampir 1 minggu menunggu, dan belum ada kabar, akhirnya hari Senin malam, 19 februari 2007, saya kembali mendatangi SCSE. Jawaban yang saya terima adalah earphone penggantinya belum datang dari Jakarta. Jadi harap menunggu saja. Nanti kalau sudah ada akan mereka telpon. Saya tanya sama mereka “berapa lama lagi saya harus menunggu….dan sampai kapan?” Mereka kembali mengatakan sekitar satu mingguan (mungkin karena terdesak sama pertanyaan saya), nanti mereka akan mengontak saya kalau sudah ada. Dengan perasaan amat kecewa, jengkel, dan tidak berdaya, saya kembali pulang.
  10. Nah…dua malam lalu (Senin, 26 Februari 2007) saya kembali mendatangi SCSE. Seperti yang saya sudah duga, jawaban yang sama saya dapatkan…belum datang dari Jakarta, nanti kalau sudah ada akan kami hubungi…tunggu saja…..ck..ck…ck….Sampai kapannnn!!!???
  11. Kekecewaan saya sudah jauh berkurang dibanding satu minggu lalu, tinggal perasaan tidak berdaya dan pasrah…..akhirnya saya cari info di Google tentang SE (melalui forum ponsel) …..hhhh……ternyata cukup banyak juga ya yang bernasib sama dengan saya.

Manado, 28 February 2007.

To be continued……

Maret 12, 2007

Desi-Desi yang ku kenal.

Diarsipkan di bawah: Masa Lalu — dannyrogi @ 3:24 pm

Selain Desi Ratnasari yang memang banyak orang kenal, termasuk aku, ada beberapa Desi lainnya yang pernah “mampir” dalam hidupku. Berikut sedikit infonya.

1. Desi temanku waktu Taman Kanak-kanak (TK). Dia anaknya kepala sekolah di TK tsb. Ibu Opi, begitu biasanya dipanggil ibunya si Desi ini. Yang ku ingat dari Desi yang ini adalah biasanya begitu sepulangnya aku dari TK dan kembali ke rumah, aku segera ganti pakaian, dan selanjutnya kembali ke TK untuk bermain dengan Desi. Desi tidak langsung pulang karena harus menunggu ibunya membereskan pekerjaan sekolah. Kesempatan itulah yang kami manfaatkan untuk kembali bermain bersama. Senang rasanya.

2. Desi berikutnya adalah temanku waktu SMP, tepatnya di kelas 2c. Kelas ini adalah kumpulan murid-murid juara kelas sewaktu kelas satu. Artinya aku juga pernah juara kelas. Namun di kelas 2c ini aku ngga jadi juara, kalah “pintar” dengan juara-juara lainnya. Nah, tentang Desi yang ini, ngga banyak memori yang aku bisa ingat. Yang ku ingat adalah Desi yang ini kulitnya putih, cukup cakep, termasuk siswa populer dan ……seorang COWOK. Aku lupa nama lengkapnya. Yang jelas nama panggilannya memang Desi.

3. Desi berikutnya adalah Desi temanku waktu SMA, cewek, dan untuk ukuran cewek cukup tinggi, dan manis tentunya. Kami tidak pernah sekelas. Kami sama-sama aktif di ekskul Volleyball. Dari pertama kali kami masuk sekolah dan daftar di ekskul ini, kemudian aktif latihan, mengikuti pertandingan, dan berbagai acara lainnya yang amat asik serta variatif, hingga kami lulus dari SMA, kami selalu sama-sama. Pokoknya oke anaknya.

4. Desi yang lain adalah Desi temanku waktu kuliah di Manado. Tepatnya adik tingkat ku. Kami sama-sama di jurusan Antropologi. Sering juga kami mengambil mata kuliah yang sama. Anaknya pintar dan kritis. Kulitnya hitam manis. Rada tomboy terlihat dari penampilannya, namun tetap enak dilihat gayanya. Desi asli orang jawa, namun kayanya dia lahir dan besar di Jakarta. Yang pasti SMA nya di Jakarta. Ngga tahu kenapa dia bisa sampe milih ke Manado. Tapi alhamdulillah deh….toh akhirnya aku bisa kenalan dan berteman dengan dia. Terakhir aku denger kabarnya dia ngelanjutin ngambil S2 di UI, juga masih antropologi, mungkin sekarang so selesai.

5. Desi yang terakhir ku kenal adalah Desi teman satu lembaga dimana aku bekerja sekarang. Namun dia berkantor di Bogor, sedangkan aku di Manado. Pertama kali ku lihat dia sewaktu aku datang ke kantor di Bogor tahun lalu ketika akan mengikuti acara annual meeting. Anaknya manis. Yang paling ku inget tentang Desi yang ini adalah suaranya yang enak di denger, kalo dia lagi nelpon ke Manado, dan kebetulan aku yang nerima…..hhmm……”halo Des, pa kabar?”

Penutup sekaligus kesimpulan

“Aku heran deh, kayaknya semua yang namanya Desi tuh anaknya kok ya selalu manis-manis gituuu”

One moment in Manado earthquake

Diarsipkan di bawah: Manado — dannyrogi @ 1:50 pm

Waktu gempa (Minggu, 21 Januari 2007, sekitar pkl. 19.30 wita) Kita, Iis, Minda sedang berada dalam kantor. Kita lagi nonton film The God Father. Tiba-tiba gempa. Iis so teriak pa Kita…”Dan, Gempa”….Lantas Kita jawab dengan santai…”iyoooo”….Lantas Kita liat pa dorang so panik. Dorang bilang…”Dan, ayo keluar!”…..Akhirnya Kita susul pa dorang. Baru sampe di muka kantor…gempanya makin kuat….torang akhirnya terpaku di tempat itu. Dorang dua bapegang kuat pa Kita, sambil baca-baca DOA. Kita perhatikan itu gedung gramedia so bagoyang-goyang, mobil kantor yang terparkir so bunyi-bunyi. Lantas terdengar jeritan suara anak-anak yang so panik dari muka gramedia….sekitar satu sampai dua menit waktunya. Gempa perlahan-lahan mereda. Lantas tong tiga masuk kantor lagi, Iis dan Minda baambil slop, keluar lagi, kantor Kita kunci. Tong tiga ke muka gramedia. Di jalan so rame deng manusia dan oto-oto….macet…..panik suasananya.

Ngga lama kemudian muncul Usman berlari-lari…panik keliatannya…ternyata waktu gempa dia lagi di Matahari lt. 2 (yang di depan korem)….dia bilang tu gedung somo rubuh (benar ini, karena setelah tong liat dari luar, dinding-dinding di lantai 1,2, dan 3, semuanya retak-retak melingkar)….dia ceritakan kepanikan yang terjadi di dalam matahari.

Setelah tenang sedikit tong 4 balik ulang ke kantor, namun masih terasa gempa susulan. Kong tong dapa info akan ada gempa susulan serta potensi tsunami. Akhirnya tong putuskan menyingkir dulu ke tempat yang lebih aman….Kita panggil dorang ke mesjid raya Ahmad Yani…tong bajalan pelan-pelan….setiba disana ternyata so mulai ada pengungsi yang berlindung disitu…..tong disitu sampai jam 21.30 wita. Akhirnya tong balik ke kantor…..gempa susulan berlangsung terus.

Catatan: Tx again for “Babunegara” yang punya pengalaman sama di Ternate

Masalah update blog

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — dannyrogi @ 1:35 pm

Ada beberapa sebab kenapa blog saya ngga di update. Moga-moga saya jujur. Sebab pertama males, berikutnya mood mo nulis ngga dateng-dateng, selanjutnya kurang disiplin, ngga kreatif, terlalu mikir yang susah susah mo cari tema tulisan, pake ditambah foto-foto segala (jadi sedikit lebih rumit nge-update-nya!, padahal saya termasuk tipe orang yang sedikit gaptek dan rada pelupa tentang teknis prosedural nge-post satu tulisan, apalagi kalo pake foto segala….)

Catatan: Tx for “kelakuan/babunegara” yang telah kembali memotivasi saya untuk mengupdate situs ini.

Desember 19, 2006

Maleo

Diarsipkan di bawah: TNBNW — dannyrogi @ 3:38 am

Macrocephalon maleo, begitu nama latinnya. Namun orang lebih akrab dengan Maleo saja titik. Burung ini amat istimewa. Penampilannya mirip dengan ayam. Namun Ayam pun mesti hormat pada yang satu ini. Sudah pernah lihat telur ayam? …ck….ck….kalau telur Maleo ukurannya 5 kali telur ayam, ini baru satu keistimewaannya. Kelebihan yang lain, kepalanya memiliki helm, sedangkan warna tubuhnya seperti aktor-aktor Holiwood yang menggunakan tuxedo diajang perebutan piala oscar. Kemudian yang luar biasa, kalau bertelur maka telurnya disimpan di dalam tanah dan ditinggalkan begitu saja  sampai menetas sendiri. Setelah itu  si anak Maleo dengan sendirinya keluar dari dalam tanah dan terbang ke dalam hutan untuk hidup sendiri sampai menemukan pasangan ketika sudah dewasa. Keistimewaan lain tentang Maleo adalah, dan ini perlu dicontoh oleh pasangan-pasangan yang sementara kasmaran memadu kasih , mereka  pasangan yang amat setia satu sama lain, kesetiaan mereka dibawa sampai mati…luar biasa. 

Maleo termasuk dalam keluarga Megapode, artinya burung dengan kaki besar, namun yang unik, kaki Maleo justru paling kecil dalam keluarga Megapode. Dalam keluarga ini terdapat 22 jenis termasuk burung Gosong atau Moyo yang banyak terdapat di Phillipina dan Maleo Maluku yang cuma ada di Maluku, tetapi hanya burung Maleo dan dua jenis lain dari 22 jenis dalam keluarga ini yang bertelur di dalam tanah. Maleo menggunakan panas bumi saat bertelur di dalam hutan atau panas matahari bila bertelur dalam pasir di daerah pantai. 

Burung Maleo merupakan burung endemik untuk pulau Sulawesi artinya tidak akan pernah dapat dijumpai di luar pulau Sulawesi. Kondisi inilah yang menjadikan salah satu alasan bagi orang asing untuk datang ke Sulawesi. Orang-orang asing berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk melihat burung yang satu ini karena di seluruh dunia  hampir tidak ada yang mirip dengan burung ini. Diduga ribuan tahun yang lalu pasti banyak tempat lokasi peneluran di sepanjang pesisir pulau Sulawesi, tetapi dalam 30 tahun terakhir ini tempat bertelur Maleo sudah sangat sedikit, karena pemukiman penduduk banyak dibangun di daerah pesisir yang rata dimana jalan raya dan pertanian mudah dibuat. Saat ini burung Maleo yang tersisa paling banyak terdapat di Sulawesi Utara dibanding dengan propinsi lain. Hal ini merupakan salah satu alasan yang baik bagi kita untuk melindungi burung ini sehingga kelangsungan hidupnya di Sulawesi Utara dapat lestari.

 

Mimpi indah

Diarsipkan di bawah: Masa Lalu — dannyrogi @ 2:36 am

Cerita ini bukan tentang mimpi basah. Sorry. Namun, tentang mimpi indah yang aneh.

Satu minggu yang lalu, dalam satu malam, saya bermimpi bertemu dengan tiga orang kawan lama. Satu kali mimpi, dalam setting yang berbeda. Pertama, dalam satu ruangan yang entah berada dimana, saya dengan beberapa teman (ngga jelas juga teman-teman ini siapa?) kedatangan tamu, dua orang cewek. Salah seorang teman saya lantas langsung menegur,…”Halo Diana”…..Saya jadi ikut menoleh. Ternyata saya kenal mukanya. Memang Diana, kakak kelas saya sewaktu di SMA. Kami sama-sama mengikuti ekskul olahraga yaitu Volley. Nah, yang lebih heboh, ternyata cewek yang sama-sama dengan Diana adalah Desi. Dia langsung berteriak memanggil saya…ya ammpuun, seru dan senang banget. Desi ini adiknya Diana. Saya dan Desi satu angkatan di SMA, namun ngga pernah satu kelas. Desi juga aktif di ekskul Volley. Kami semua di ekskul volley amat akrab seperti keluarga. Selanjutnya di mimpi tersebut, saya dan Desi, ngobrol-ngobrol ngelepas kangen (Diana udah ngga kelihatan)…….Bahagia banget…..selanjutnya setting tersebut hilang begitu saja, yang tersisa masih perasaan happy.

Setelah setting yang tadi sirna, muncul setting berikut. Kurang begitu jelas dimana. Namun pada waktu itu saya ketemu dengan Martin. Martin ini adalah mantan koordinator proyek Maleo di Dumoga TN. Bogani Nani Wartabone. Dia orang Inggris, masih muda, lebih muda dari saya. Dalam mimpi itu, saya juga merasa senang ketemu dia, tapi kayaknya dia rada cuek sama saya………..

Lantas saya terbangun, masih mengingat mimpi yang barusan lewat. Lucu, aneh, dan bahagia. Sudah lama ngga ketemu mereka. Dengan Desi dan Diana, ngga ketemu sudah sekitar 17 tahun. Kalau dengan Martin, ngga ketemu sudah sekitar 4 tahun. Desi dan Diana mungkin masih di Jakarta. Martin sudah balik ke Inggris.

Hhhh…nice dream.

Desember 16, 2006

Rebonding & Tenda village

Diarsipkan di bawah: Gorontalo — dannyrogi @ 4:48 pm

Pemandangan muara sungai Bone

Ini pemandangan di muara sungai Bone. Perumahan yang terlihat kecil-kecil itu adalah Kampung Tenda. Yang unik di kampung tenda ini adalah banyaknya rumah-rumah di daerah tersebut yang menawarkan jasa rebonding (ngelurusin rambut). Puluhan jumlahnya. Namanya juga unik-unik. Ada rebonding Indah, rebonding Susan, Rebonding mami Ebi, rebonding lorong senggol, rebonding diva, dsb. Sewaktu di Gorontalo lagi musim rebonding…tahun lalu kalo ngga salah…kampung tersebut menjadi makin ramai, bergeliat dan amat hidup. Semua muda-mudi di Gorontalo, dari mulai anak-anak sampai orang tua, kalau mau ngelurusin rambut, salah satu alternatif tempat yang dituju adalah kampung tenda, karena di tempat ini amat murah, meriah dan massal.
Saya juga ngga tahu, kenapa pada waktu itu muda-mudi Gorontalo begitu senang sekali dengan rebonding? Mungkin hanya warga di kampung tenda yang tahu, sampai mereka berbondong-bondong mendirikan jasa rebonding.
Hari ini kalo kita melintasi jalan di kampung tenda, yang tertinggal adalah papan-papan nama para warga yang menawarkan jasa rebonding…namun sudah tidak seramai dulu lagi….akan kah musim itu datang kembali? Angin semilir sungai Bone akan menjadi saksi.

Desember 14, 2006

Hungayono Camp (2)

Diarsipkan di bawah: TNBNW — dannyrogi @ 11:40 am


Ini foto camp baru kami di Hungayono. Camp kami yang lama (di foto sebelumnya) udah ngga layak huni. Maklum sudah 3 tahun. Camp yang baru ini selesai dibangun bulan september 2006 yang lalu. Tidak sampai satu bulan proses pembuatannya. Dari camp ini lah kami merancang strategi bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan Maleo.

Hungayono Camp (1)

Diarsipkan di bawah: TNBNW — dannyrogi @ 8:06 am


Ini salah satu camp yang digunakan untuk program konservasi Maleo. Maleo adalah burung endemik Sulawesi, artinya secara alamiah hanya dapat hidup dan ditemukan di Sulawesi. Maleo sedang mengalami ancaman kepunahan, akibat berbagai ulah manusia. Saat ini ada tiga site di Taman Nasional Bogani Nani wartabone (TNBNW) yang menjadi lokasi riset dan monitoring Maleo. Dua site terletak di Dumoga Kab. Bolaang Mongondow Sulawesi Utara dan satu site terletak di Suwawa Kab. Bone Bolango Gorontalo. Camp ini ada di Suwawa, tepatnya di Hungayono desa Tulabolo. Camp ini dibangun di awal tahun 2003

Desember 13, 2006

Vagina Monolog di Manado (2)

Diarsipkan di bawah: Manado — dannyrogi @ 8:02 am

Pementasan Vagina Monolog sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Di Manado memang baru kali ini. Dulu sempat terdengar bikin heboh di Jakarta….baru denger judulnya saja sudah unik. Nih info selengkapnya tentang kegiatan dulu di Jakarta .

Di Manado acaranya diikuti oleh beberapa organisasi perempuan baik yang ada di pemerintah maupun masyarakat. Beberapa pimpinan atau tokohnya bergantian membacakan puisi yang bertemakan perempuan. Selanjutnya beberapa aktivis perempuan mementaskan Vagina Monolog.
14 kasus kekerasan perempuan, termasuk hubungannya dengan “miss v”, direfleksikan dalam satu gerak tubuh dan penghayatan puisi beralur drama. Begitu loh yang saya baca di harian lokal Manado :) . Sorry saya sendiri menyesal ngga hadir untuk melihat dan mendengar secara langsung.

Oke, saya cuma ingin berkomentar bahwa, ditengah ramainya wacana tentang RUU Pornografi, Poligami dan revisi UU Perkawinan, agar masalah kekerasan terhadap anak dan perempuan di Indonesia, termasuk di Manado, tidak saja hanya selesai disikapi melalui satu pementasan seni dan budaya…apalagi sebatas pernyataan sikap atau pers release. Perlu upaya lebih keras dari itu. Dan lebih dari itu, semuanya harus kita mulai dari diri kita masing-masing. Bagaimana kita di tengah keluarga, tidak melakukan tindak kekerasan (serta pelecehan!), baik secara pisik maupun psikologis, kepada saudara-saudara kita, orang tua kita, istri atau suami kita, anak-anak kita, dll. Selain di keluarga, juga dengan tetangga, maupun teman-teman di kantor atau dimanapun kita berada.

Selama ini kita sering sadar atau tidak sadar melakukan kekerasan atau pelecehan, mulai dari yang soft sampai kategori “brutal” justru pada orang-orang di kalangan terdekat kita, mungkin maksudnya becanda, mendidik, atau bagian dari rasa sayang … tapi? Coba renungkan.

Saya pikir cukup tentang vagina monolog. Berikutnya mungkin kalo “mood” saya lagi oke, ingin rasanya menulis tentang bagaimana vagina dan penis berdialog dalam prosesi ritual reproduksi demi proses regenerasi.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.