Sabua Bambu

Maret 12, 2007

Desi-Desi yang ku kenal.

Diarsipkan di bawah: Masa Lalu — dannyrogi @ 3:24 pm

Selain Desi Ratnasari yang memang banyak orang kenal, termasuk aku, ada beberapa Desi lainnya yang pernah “mampir” dalam hidupku. Berikut sedikit infonya.

1. Desi temanku waktu Taman Kanak-kanak (TK). Dia anaknya kepala sekolah di TK tsb. Ibu Opi, begitu biasanya dipanggil ibunya si Desi ini. Yang ku ingat dari Desi yang ini adalah biasanya begitu sepulangnya aku dari TK dan kembali ke rumah, aku segera ganti pakaian, dan selanjutnya kembali ke TK untuk bermain dengan Desi. Desi tidak langsung pulang karena harus menunggu ibunya membereskan pekerjaan sekolah. Kesempatan itulah yang kami manfaatkan untuk kembali bermain bersama. Senang rasanya.

2. Desi berikutnya adalah temanku waktu SMP, tepatnya di kelas 2c. Kelas ini adalah kumpulan murid-murid juara kelas sewaktu kelas satu. Artinya aku juga pernah juara kelas. Namun di kelas 2c ini aku ngga jadi juara, kalah “pintar” dengan juara-juara lainnya. Nah, tentang Desi yang ini, ngga banyak memori yang aku bisa ingat. Yang ku ingat adalah Desi yang ini kulitnya putih, cukup cakep, termasuk siswa populer dan ……seorang COWOK. Aku lupa nama lengkapnya. Yang jelas nama panggilannya memang Desi.

3. Desi berikutnya adalah Desi temanku waktu SMA, cewek, dan untuk ukuran cewek cukup tinggi, dan manis tentunya. Kami tidak pernah sekelas. Kami sama-sama aktif di ekskul Volleyball. Dari pertama kali kami masuk sekolah dan daftar di ekskul ini, kemudian aktif latihan, mengikuti pertandingan, dan berbagai acara lainnya yang amat asik serta variatif, hingga kami lulus dari SMA, kami selalu sama-sama. Pokoknya oke anaknya.

4. Desi yang lain adalah Desi temanku waktu kuliah di Manado. Tepatnya adik tingkat ku. Kami sama-sama di jurusan Antropologi. Sering juga kami mengambil mata kuliah yang sama. Anaknya pintar dan kritis. Kulitnya hitam manis. Rada tomboy terlihat dari penampilannya, namun tetap enak dilihat gayanya. Desi asli orang jawa, namun kayanya dia lahir dan besar di Jakarta. Yang pasti SMA nya di Jakarta. Ngga tahu kenapa dia bisa sampe milih ke Manado. Tapi alhamdulillah deh….toh akhirnya aku bisa kenalan dan berteman dengan dia. Terakhir aku denger kabarnya dia ngelanjutin ngambil S2 di UI, juga masih antropologi, mungkin sekarang so selesai.

5. Desi yang terakhir ku kenal adalah Desi teman satu lembaga dimana aku bekerja sekarang. Namun dia berkantor di Bogor, sedangkan aku di Manado. Pertama kali ku lihat dia sewaktu aku datang ke kantor di Bogor tahun lalu ketika akan mengikuti acara annual meeting. Anaknya manis. Yang paling ku inget tentang Desi yang ini adalah suaranya yang enak di denger, kalo dia lagi nelpon ke Manado, dan kebetulan aku yang nerima…..hhmm……”halo Des, pa kabar?”

Penutup sekaligus kesimpulan

“Aku heran deh, kayaknya semua yang namanya Desi tuh anaknya kok ya selalu manis-manis gituuu”

& Komentar »

  1. 26/07/2007 10:13 WIB
    Ekskul Dibekukan, Siswa SMAN 70 Bulungan Demo
    Rafiqa Qurrata A – detikcom

    Jakarta – Saat jam belajar sekolah, siswa-siswi SMAN 70 justru demo menuntut seorang guru mundur. Sang guru diminta lengser lantaran akan membekukan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul).

    Aksi diikuti ratusan siswa kelas 2 dan siswa kelas 3 SMAN 70 Jakarta di Jalan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2007) pukul 07.00 – 09.00 WIB. Sementara siswa kelas I tetap mengikuti proses belajar mengajar.

    Dengan berseragam abu-abu dan membawa tas sekolah, para siswa terus meneriakkan yel-yel “turunkan Afrizal…turunkan Afrizal…”.

    Afrizal merupakan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) kelas I SMAN 70.

    “Anak kelas I yang baru masuk tidak boleh ikut ekskul.
    Alasannya seluruh ekskul dibekukan, katanya mau diperketat lagi. Rohis saja yang jelas-jelas ekskul agama kena juga. Pak Afrizal biangnya,” kata seorang siswa.

    Para siswa membentangkan spanduk bertuliskan “Kami butuh sekolah, bukan penjara”, Afrizal tempatmu bukan di sini”, “Jangan hambat kreativitas kami”.

    Ada juga poster bertuliskan “Jangan hambat aktivitas kami”, “Kami butuh guru bukan polisi”, “Kami butuh sekolah bukan penjara”, dan dan “Afrizal=Kamtib” tampak ditempel di pagar sekolah.

    Aksi dijaga 5 satpam berseragam biru tua. Wartawan yang hendak mengkonfirmasi ke pihak sekolah dilarang masuk ke sekolah itu.

    Hingga pukul 10.00 WIB, aksi masih berlangsung damai. Beberapa siswa ada yang terlihat duduk-duduk dan mengobrol di pinggir trotoar. (aan/nrl)

    Komentar oleh Macrochepalon Maleo — Juli 26, 2007 @ 9:15 am

  2. Wakakakakakakakakakakak yang last paragraph

    Komentar oleh Yoki — Desember 6, 2007 @ 5:45 pm

  3. Lha.. terus Desi yang mana yang kamu naksir???
    kabur…

    Komentar oleh iwan — Januari 31, 2008 @ 7:27 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.